Belum berakhir.
Jalanmu masih panjang..berlari dan terus berlari ..
Jangan toleh kebelakang..
Jangan hiraukan siapapun yg menghadang
Pencapaian garis finish itu masih panjang..banyak hal yg akan merintangi.
Termasuk batu kerikil yg bisa jadi sandunganmu.
Termasuk sinar mentari yang akan menyilaukanmu.
Akankah hanya akan berhenti sesaat setelah semua ini
Ataukah
Akan semakin kuat kau menghadapinya?
Rabu, 13 Mei 2009
Selasa, 14 April 2009
KaTa Orang..
Kata Orang Wanita Laksana Cermin Sekali Pecah Habislah Segalanya
Tapi Apalah Artinya Sebuah Cermin Bila Yang Dicintainya Enggan Berkaca
Kata Orang Wanita Seperti Telur Sekali Pecah Segalanya Hancur
Tapi Apalah Artinya Sebuah Telur Bila Yang Dikasihinya Enggan Bersyukur
Sebelum Cermin Itu Pecah Apa Salahnya Dibingkai Yang Indah
Sebelum Telur Itu Menetas Apa Salahnya Dierami Yang Pantas
Dibingkai Untuk Melindunginya
Dierami Untuk Mendewasakannya
Dia Perlu Dorongan Kekuatan
Dia Perlu Dukungan Pikiran
Dirinya Mudah Pecah Seperti Cermin
Dirinya Mudah Hancur Seperti Telur
Begitu Pula Hatinya Yang Tercermin Dalam Sorot Mata
Hatinya Tersalur Cermin Itu Bertanda Dirinya Yang Suci
Telur Itu Bermaksud Dirinya Yang Utuh
Bahwa Dia Memang Harus Dilidungi Sebisa Mungkin
Tapi Apalah Artinya Sebuah Cermin Bila Yang Dicintainya Enggan Berkaca
Kata Orang Wanita Seperti Telur Sekali Pecah Segalanya Hancur
Tapi Apalah Artinya Sebuah Telur Bila Yang Dikasihinya Enggan Bersyukur
Sebelum Cermin Itu Pecah Apa Salahnya Dibingkai Yang Indah
Sebelum Telur Itu Menetas Apa Salahnya Dierami Yang Pantas
Dibingkai Untuk Melindunginya
Dierami Untuk Mendewasakannya
Dia Perlu Dorongan Kekuatan
Dia Perlu Dukungan Pikiran
Dirinya Mudah Pecah Seperti Cermin
Dirinya Mudah Hancur Seperti Telur
Begitu Pula Hatinya Yang Tercermin Dalam Sorot Mata
Hatinya Tersalur Cermin Itu Bertanda Dirinya Yang Suci
Telur Itu Bermaksud Dirinya Yang Utuh
Bahwa Dia Memang Harus Dilidungi Sebisa Mungkin
Selasa, 17 Februari 2009
Kisah Klasik Untuk Dikenang
Ini kisahku, ceritaku dengan pejuang yang masih tersisa.
Ketiga teman rekan kerja yang sekaligus layaknya saudara bisa jadi pelampiasan segala perkara, setiap hari bertatap muka, saling memuji dan kadang mencela. Entah kenapa bawaan sifat tomboyku dari kecil mungkin sehingga membuat aku lebih cepat akrab dan lebih banyak punya teman-teman laki-laki dibandingkan perempuan. Ataukah mungkin karena sudah tidak ada perempuan lain yang tersisa ditempat ini?
Sebut saja Mas Latief, wong Bantul, wajah jawa tulennya jelas terlihat. Tubuh tidak terlalu tinggi dan dengan perut gendutnya yang semakin hari kian menonjol sering menjadi bahan obrolan kami, namun dengan gaya santai orangnya serta kepintarannya dalam membanyol seharusnya dia cocok untuk menggantikan acara Srimulat. Mungkin kalau dalam dunia pewayangan dia cocok jadi tokoh Bagong. Ataukah mungkin dalam dunia anak-anak cocok jadi anggota Teletubies. Bagaimanapun dia adalah pribadi yang menyenangkan.
Mas bayu, seorang pemuda yang mungkin boleh dikata secara usia sudah cukup dewasa, namun karena casing luarnya yang menarik (he..he..kayak hp aja..) sehingga terlihat lebih muda dari usia sebenarnya. Tapi dulu sebenarnya dia sangat culun. Pembawaannya yang tenang serta dengan tutur bahasa yang halus ditambah dengan casing luar yang menarik harusnya dengan mudah dia bisa memikat para gadis. Tapi koq belum ada satu gadispun yang tertarik ataupun yang bisa membuat dia tertarik, kami semua kadang heran. Dan sepertinya dia lebih menikmati hidup dengan pacar khayalannya serta dengan prinsip yang sudah menyatu dalam hati. Salut!. Atau jangan-jangan ada yang tak beres dengan dirinya.(..haphaphaphap..pizz!..)
Mas Angga, Jogja asli namun sepintas dari parasnya terlihat sedikit ada campuran etnis Tionghoa, karena kulitnya yang putih ditambah dengan mata yang sipit dan dibingkai sebuah kacamata yang tak pernah lepas dari dirinya. Saat tertawa, bisa jadi malah tidak kelihatan pupil matanya, bisa dikatakan merem, untung kami cukup setia dan tidak pernah meninggalkan dia saat tertawa. Kadang kami sering memanggilnya Koh Angga. Sedikit pendiam dan misterius. Tidak lebih tinggi dibandingkan aku, bisa dikatakan paling kecil dibandingkan kami semua, tapi mungkin paling imut sendiri.
Terakhir aku, yang tak pernah tahu apa yang menjadi kelebihanku, mungkin lebih banyak kelemahannya. Jelas paling lemah, karena aku wanita sendiri (he..he..he..). Dan karena itu aku sering medapat prioritas utama. Hal yang paling sering yang aku lakukan adalah memanggil mereka semua dengan sebutan ”Oom”. Bersama merekalah aku mencoba menghabiskan akhir pekan yang kebetulan bertepatan dengan hari Valentine. Yaah..mungkin tak ada bedanya antara hari valentine dengan hari-hari biasanya. Aku dan mereka semua tiada pasangan disini..sendiri.
Jogja hari ini cerah. Padahal seringnya adalah hujan seharian megguyur dari malam kembali ke malam. Planning yang dibuat teman-teman untuk sejenak bersantai sejenak melepaskan segala pikiran dan kepenatan menjadikan Paris van Java alias pantai Parang Tritis sebagai tempat yang paling mudah untuk dijangkau. Ini bukan touring tapi piknik dengan segala macam perbekalan makanan. Mas Bayu mengatakan ini adalah acara makan yang pindah lokasi saja. Memang sudah dari siang dia mengincar perbekalan yang sudah aku persiapkan untuk kami semua. Dan aku berusaha mempertahankan mati-matian agar tidak berkurang sedikitpun olehnya. Iring-iringan kecil ini sengaja berangkat sore jam 16.00 agar sesampainya disana bertepatan dengan sunset. Kamera fotografer yang beratnya lebih dari 3 kg tidak lupa kami bawa sekalian untuk mengabadikan kisah ini. Terlihat Mas Latief yang sedang membonceng terlihat seperti kura-kura ninja ditambah lagi dengan tas ransel yang disandang Mas Bayu menjadikan mereka seolah-olah dua kura-kura ninja yang kompak. Aku sendiri membonceng Mas Angga, dengan cara mengendarai motor yang sering membuatku sport jantung.
Hal pertama yang dilakukan sesampainya disana adalah membuka perbekalan, dan siapakah pelaku utamanya? Jelas sudah. Ada air mineral 2 botol besar, roti isi coklat pisang, crakers dari segala merk, biskuit, wafers dan juga tambahan arem-arem yang kami beli dari penjual yang mengampiri kami di pantai. Tentu makanan tersebut memang tidak mampu kami habiskan semua karena jumlah kami hanya empat. Memang akhirnya sebagian kami bawa pulang lagi. Obrolan santai dan ringan menjadi iringan untuk menikmati makanan ini.
Tiba-tiba mas latief dengan tergesa mengeluarkan kamera yang sudah dibawa, ternyata dia melihat
Tuan putri yang sedang menunggang kuda.
Oh..itu bukan Tuan putri, tapi lebih tepatnya adalah seorang turis asing yang kebetulan juga sedang mengunjungi pantai ini. Tubuhnya terlihat menarik dengan tank top warna merah menyala di padu padan hot pants, berkacamata coklat yang sama coklatnya dengan warna rambutnya yang keemasan terurai panjang. Sungguh cantik sekali, sinar senja membuat putih kulitnya semakin terlihat bercahaya. Gadis cantik sedang menunggang kuda, tentu ini jadi sebuah obyek gambar yang bagus. Dasar mas Latief, lagaknya memang kayak fotografer prefesioanal mengambil sana-sini dari berbagai sudut pandang dan bahkan mendekati turis tersebut untuk lebih dekat lagi dalam memotret. Yaah..ini boleh dikata ini pemandangan yang luar biasa sekalian cuci mata.
Dan entah bagaimana caranya, kuda yang ditunggangi sang turis itu sekarang malah berganti penunggangnya. Terlihat mas Latief layaknya seorang punggawa kerajaan yang maju perang dengan sorban yang diikatkan dikepalanya, minta untuk difoto. Ditambah lagi tingkah mas Angga yang seperti Kapten Tsubasa menendang bola yang tiba-tiba ditemukan di pantai ini. Tapi kenapa mas Bayu terlihat melamun saja.
Sejenak aku menyingkir dari mereka semua, menepi ke bibir pantai, memandang ke lautan lepas tanpa ada batas selain cakrawala. Diam, dengan mata terpejam kuresapi suasana senja ini. Sepoi angin seakan mengelusku lembut. Suara Debur ombak di depanku seakan memberitahukan bahwa aku tak sendiri. Kupandang mereka yang saling berkejaran untuk mencapai bibir pantai, dalam batas anganku aku berpikir, mungkinkah ombak-ombak ini suatu hari nanti akan merasa lelah untuk menjumpai pantai. Diibaratkan sebuah pasangan, ombak dan pantai adalah pasangan yang tak terpisahkan, sejauh apapun sang ombak pergi pasti akan kembali menjumpai pantai. Aku mencoba menikmati semuanya ini, meski masing-masing dari kami mempunyai kekhawatiran sendiri-sendiri. Melepaskan segala beban pikiran yang menguasai diri mseki hanya sementara. Bisa dikatakan suatu hari nanti ini akan jadi kisah klasik untuk dikenang kisah sekaligus perpisahan yang tersirat. Entah siapa nanti yang akan memulainya lebih dulu, aku tak tahu.
Senja yang berganti malam memaksa kami untuk meninggalkan pantai ini. Tidak sampai disini saja, perut kami masing-masing mulai berbunyi meminta kami untuk menemukan tempat yang nyaman buat makan dan melanjutkan obrolan.
Suasana malam tempat makan yang temaram dibawah cahaya lampu yang berwarna kuning keemasan, sebenarnya sangat romantis bagi mereka yang saat ini sedang merayakan malam valentine. Lagi-lagi kami saling mengolok karena di malam valentine tak ada satupun dari kami yang mempunyai pasangan disini. Liatlah...semua hanya bisa berpangku tangan..

Sekilas catatan kecil dari kawan :
“We’re the last fighter here. And we’ll never surrender, keep our spirit facing all of the problems. Such you always say Mr MH, “Be The Winner!”. Yes, we’re here fighting for u, and u should know that, Mr! So, fight for us too.. Mr!” Whekekekekek…
Ketiga teman rekan kerja yang sekaligus layaknya saudara bisa jadi pelampiasan segala perkara, setiap hari bertatap muka, saling memuji dan kadang mencela. Entah kenapa bawaan sifat tomboyku dari kecil mungkin sehingga membuat aku lebih cepat akrab dan lebih banyak punya teman-teman laki-laki dibandingkan perempuan. Ataukah mungkin karena sudah tidak ada perempuan lain yang tersisa ditempat ini?
Mas bayu, seorang pemuda yang mungkin boleh dikata secara usia sudah cukup dewasa, namun karena casing luarnya yang menarik (he..he..kayak hp aja..) sehingga terlihat lebih muda dari usia sebenarnya. Tapi dulu sebenarnya dia sangat culun. Pembawaannya yang tenang serta dengan tutur bahasa yang halus ditambah dengan casing luar yang menarik harusnya dengan mudah dia bisa memikat para gadis. Tapi koq belum ada satu gadispun yang tertarik ataupun yang bisa membuat dia tertarik, kami semua kadang heran. Dan sepertinya dia lebih menikmati hidup dengan pacar khayalannya serta dengan prinsip yang sudah menyatu dalam hati. Salut!. Atau jangan-jangan ada yang tak beres dengan dirinya.(..haphaphaphap..pizz!..)
Terakhir aku, yang tak pernah tahu apa yang menjadi kelebihanku, mungkin lebih banyak kelemahannya. Jelas paling lemah, karena aku wanita sendiri (he..he..he..). Dan karena itu aku sering medapat prioritas utama. Hal yang paling sering yang aku lakukan adalah memanggil mereka semua dengan sebutan ”Oom”. Bersama merekalah aku mencoba menghabiskan akhir pekan yang kebetulan bertepatan dengan hari Valentine. Yaah..mungkin tak ada bedanya antara hari valentine dengan hari-hari biasanya. Aku dan mereka semua tiada pasangan disini..sendiri.
Jogja hari ini cerah. Padahal seringnya adalah hujan seharian megguyur dari malam kembali ke malam. Planning yang dibuat teman-teman untuk sejenak bersantai sejenak melepaskan segala pikiran dan kepenatan menjadikan Paris van Java alias pantai Parang Tritis sebagai tempat yang paling mudah untuk dijangkau. Ini bukan touring tapi piknik dengan segala macam perbekalan makanan. Mas Bayu mengatakan ini adalah acara makan yang pindah lokasi saja. Memang sudah dari siang dia mengincar perbekalan yang sudah aku persiapkan untuk kami semua. Dan aku berusaha mempertahankan mati-matian agar tidak berkurang sedikitpun olehnya. Iring-iringan kecil ini sengaja berangkat sore jam 16.00 agar sesampainya disana bertepatan dengan sunset. Kamera fotografer yang beratnya lebih dari 3 kg tidak lupa kami bawa sekalian untuk mengabadikan kisah ini. Terlihat Mas Latief yang sedang membonceng terlihat seperti kura-kura ninja ditambah lagi dengan tas ransel yang disandang Mas Bayu menjadikan mereka seolah-olah dua kura-kura ninja yang kompak. Aku sendiri membonceng Mas Angga, dengan cara mengendarai motor yang sering membuatku sport jantung.
Hal pertama yang dilakukan sesampainya disana adalah membuka perbekalan, dan siapakah pelaku utamanya? Jelas sudah. Ada air mineral 2 botol besar, roti isi coklat pisang, crakers dari segala merk, biskuit, wafers dan juga tambahan arem-arem yang kami beli dari penjual yang mengampiri kami di pantai. Tentu makanan tersebut memang tidak mampu kami habiskan semua karena jumlah kami hanya empat. Memang akhirnya sebagian kami bawa pulang lagi. Obrolan santai dan ringan menjadi iringan untuk menikmati makanan ini.
Tiba-tiba mas latief dengan tergesa mengeluarkan kamera yang sudah dibawa, ternyata dia melihat
Oh..itu bukan Tuan putri, tapi lebih tepatnya adalah seorang turis asing yang kebetulan juga sedang mengunjungi pantai ini. Tubuhnya terlihat menarik dengan tank top warna merah menyala di padu padan hot pants, berkacamata coklat yang sama coklatnya dengan warna rambutnya yang keemasan terurai panjang. Sungguh cantik sekali, sinar senja membuat putih kulitnya semakin terlihat bercahaya. Gadis cantik sedang menunggang kuda, tentu ini jadi sebuah obyek gambar yang bagus. Dasar mas Latief, lagaknya memang kayak fotografer prefesioanal mengambil sana-sini dari berbagai sudut pandang dan bahkan mendekati turis tersebut untuk lebih dekat lagi dalam memotret. Yaah..ini boleh dikata ini pemandangan yang luar biasa sekalian cuci mata.
Dan entah bagaimana caranya, kuda yang ditunggangi sang turis itu sekarang malah berganti penunggangnya. Terlihat mas Latief layaknya seorang punggawa kerajaan yang maju perang dengan sorban yang diikatkan dikepalanya, minta untuk difoto. Ditambah lagi tingkah mas Angga yang seperti Kapten Tsubasa menendang bola yang tiba-tiba ditemukan di pantai ini. Tapi kenapa mas Bayu terlihat melamun saja.
Sejenak aku menyingkir dari mereka semua, menepi ke bibir pantai, memandang ke lautan lepas tanpa ada batas selain cakrawala. Diam, dengan mata terpejam kuresapi suasana senja ini. Sepoi angin seakan mengelusku lembut. Suara Debur ombak di depanku seakan memberitahukan bahwa aku tak sendiri. Kupandang mereka yang saling berkejaran untuk mencapai bibir pantai, dalam batas anganku aku berpikir, mungkinkah ombak-ombak ini suatu hari nanti akan merasa lelah untuk menjumpai pantai. Diibaratkan sebuah pasangan, ombak dan pantai adalah pasangan yang tak terpisahkan, sejauh apapun sang ombak pergi pasti akan kembali menjumpai pantai. Aku mencoba menikmati semuanya ini, meski masing-masing dari kami mempunyai kekhawatiran sendiri-sendiri. Melepaskan segala beban pikiran yang menguasai diri mseki hanya sementara. Bisa dikatakan suatu hari nanti ini akan jadi kisah klasik untuk dikenang kisah sekaligus perpisahan yang tersirat. Entah siapa nanti yang akan memulainya lebih dulu, aku tak tahu.
Senja yang berganti malam memaksa kami untuk meninggalkan pantai ini. Tidak sampai disini saja, perut kami masing-masing mulai berbunyi meminta kami untuk menemukan tempat yang nyaman buat makan dan melanjutkan obrolan.
Suasana malam tempat makan yang temaram dibawah cahaya lampu yang berwarna kuning keemasan, sebenarnya sangat romantis bagi mereka yang saat ini sedang merayakan malam valentine. Lagi-lagi kami saling mengolok karena di malam valentine tak ada satupun dari kami yang mempunyai pasangan disini. Liatlah...semua hanya bisa berpangku tangan..
Sekilas catatan kecil dari kawan :
“We’re the last fighter here. And we’ll never surrender, keep our spirit facing all of the problems. Such you always say Mr MH, “Be The Winner!”. Yes, we’re here fighting for u, and u should know that, Mr! So, fight for us too.. Mr!” Whekekekekek…
Kamis, 12 Februari 2009
Saat Biduk Mulai Karam
Sebuah kata-kata penguatan aku terima siang ini, mungkin benar saat ini aku sedang dihadapkan oleh sebuah pilihan yang bagiku sama-sama sulitnya. Mungkin tidak terlalu sulit seandainya keadaan sama seperti dulu, tapi tidak untuk saat ini.
Aku bingung, iya pasti..
Mencoba mencari sebuah pembenaran diri, melalui batas pikir yang begitu sempitnya.
Ketakutan-ketakutanku tak pernah ada yang bisa memahaminya.
Karena hanya aku yang hanya mampu merasakan.
Dua Pilihan :
Tetap Tinggal Atau Melangkah Pergi
Biduk ini hampir karam, ada kesempatan melangkah pergi dengan sebuah kepastian, ataukah aku harus mencoba untuk tetap tinggal dan berusaha tidak tenggelam.
Masing-masing mempunyai konsekuensi yang berbeda. Untuk hidupku, untuk langkahku.
Terlalu berat..berat sekali..
Cepat atau lambat jawabanku memang dinanti.
" Jalan menuju bahagia dan sukses tidak selalu lurus"
" Ada tikungan bernama kegagalan"
" Ada bundaran bernama kebingungan"
" Ada tanjakan bernama teman dan lawan"
" Lampu merah bernama musuh"
" Lampu kuning bernama keluarga"
" Kamu akan mengalami ban kempes dan pecah"
" Itulah Hidup"
" Tapi jika kamu membawa ban serep bernama TEKAD"
" Mesin bernama KETEKUNAN"
" Asuransi bernama IMAN"
" Pengemudi bernama TUHAN"
" Sampailah di daerah yang disebut SETIA, SUKSES, dan BAHAGIA"
Thanks Om jab buat smsnya!
Aku bingung, iya pasti..
Mencoba mencari sebuah pembenaran diri, melalui batas pikir yang begitu sempitnya.
Ketakutan-ketakutanku tak pernah ada yang bisa memahaminya.
Karena hanya aku yang hanya mampu merasakan.
Dua Pilihan :
Tetap Tinggal Atau Melangkah Pergi
Biduk ini hampir karam, ada kesempatan melangkah pergi dengan sebuah kepastian, ataukah aku harus mencoba untuk tetap tinggal dan berusaha tidak tenggelam.
Masing-masing mempunyai konsekuensi yang berbeda. Untuk hidupku, untuk langkahku.
Terlalu berat..berat sekali..
Cepat atau lambat jawabanku memang dinanti.
" Jalan menuju bahagia dan sukses tidak selalu lurus"
" Ada tikungan bernama kegagalan"
" Ada bundaran bernama kebingungan"
" Ada tanjakan bernama teman dan lawan"
" Lampu merah bernama musuh"
" Lampu kuning bernama keluarga"
" Kamu akan mengalami ban kempes dan pecah"
" Itulah Hidup"
" Tapi jika kamu membawa ban serep bernama TEKAD"
" Mesin bernama KETEKUNAN"
" Asuransi bernama IMAN"
" Pengemudi bernama TUHAN"
" Sampailah di daerah yang disebut SETIA, SUKSES, dan BAHAGIA"
Thanks Om jab buat smsnya!
Kamis, 05 Februari 2009
To Understand III
Aku diam
Bukan tanpa makna
Menggali rasa dalam relung hatiku
Aku diam
Bukan tanpa rasa
Menahan buncah dalam dada
Aku diam
Agar aku bisa lebih tenang
Bukan tanpa makna
Menggali rasa dalam relung hatiku
Aku diam
Bukan tanpa rasa
Menahan buncah dalam dada
Aku diam
Agar aku bisa lebih tenang
To Understand II
Aku kacau
Jelas!
Semalam
Hari ini
Pasti!
Terserah!
Terserah!
Terserah!
Persetan!
Masa Bodoh!
Berlebihankah?
Mungkin
Risi!
Iya buatmu!
Diluar batas?
Tak wajar?
Itu ukuranmu!
Gila!
Karenamu!
Semuanya
Buatku lemah
Lagi-lagi sembab
Jika tak memikirkanmu
Itu berarti aku melupakanmu
Tak lagi peduli denganmu
Menganggabmu tak ada
Dan bukan siapa-siapa
Tak berarti apa-apa
Kau mau?!
Jelas!
Semalam
Hari ini
Pasti!
Terserah!
Terserah!
Terserah!
Persetan!
Masa Bodoh!
Berlebihankah?
Mungkin
Risi!
Iya buatmu!
Diluar batas?
Tak wajar?
Itu ukuranmu!
Gila!
Karenamu!
Semuanya
Buatku lemah
Lagi-lagi sembab
Jika tak memikirkanmu
Itu berarti aku melupakanmu
Tak lagi peduli denganmu
Menganggabmu tak ada
Dan bukan siapa-siapa
Tak berarti apa-apa
Kau mau?!
To Understand I
Kidung laraku kembali jatuh
Malam ini untuk kesekian kali
Kulepaskan semua
Bibir kelu wajah sendu itu temani tidurku
Hanya segurat rasa
Berhasil melumpuhkanku
Memporak porandakan pertahanan jiwa
Menyesakkan dada
Merusak logika
Menjadikannya kembali ketitik terlemah
Aku tenggelam
Tidak!
Mencoba mengabaikan
Mencoba menyangkal
Dengan ketidakberdayaan yang telah menjadi teman mesra
Bukan seperti ini yang kuinginkan
Bukan seperti ini yang kuharapkan
Kembali ke awal
Sekuat batu karang!
Malam ini untuk kesekian kali
Kulepaskan semua
Bibir kelu wajah sendu itu temani tidurku
Hanya segurat rasa
Berhasil melumpuhkanku
Memporak porandakan pertahanan jiwa
Menyesakkan dada
Merusak logika
Menjadikannya kembali ketitik terlemah
Aku tenggelam
Tidak!
Mencoba mengabaikan
Mencoba menyangkal
Dengan ketidakberdayaan yang telah menjadi teman mesra
Bukan seperti ini yang kuinginkan
Bukan seperti ini yang kuharapkan
Kembali ke awal
Sekuat batu karang!
Jumat, 30 Januari 2009
Perempuan

Dia yang diambil dari tulang rusuk. Jika Tuhan mempersatukan dua orang yang berlawanan sifatnya, maka itu akan menjadi saling melengkapi. Dialah penolongmu yang sepadan, bukan sparing partner yang sepadan.
Ketika pertandingan dimulai, dia tidak berhadapan denganmu untuk melawanmu, tetapi dia akan berada bersamamu untuk berjaga-jaga di belakang saat engkau berada di depan atau segera mengembalikan bola ketika bola itu terlewat olehmu, dialah yang akan menutupi kekuranganmu.
Dia ada untuk melengkapi yang tak ada dalam laki-laki :
perasaan,
emosi,
kelemahlembutan,
keluwesan,
keindahan,
kecantikan,
rahim untuk melahirkan,
mengurusi hal-hal sepele...¡ hingga ketika laki-laki tidak mengerti hal-hal itu, dialah yang akan menyelesaikan bagiannya...sehingga tanpa kau sadari ketika kau menjalankan sisa hidupmu... kau menjadi lebih kuat karena kehadirannya di sisimu.
Jika ada makhluk yang sangat bertolak belakang, kontras dengan lelaki, itulah perempuan.
Jika ada makhluk yang sanggup menaklukkan hati hanya dengan sebuah senyuman, itulah perempuan.
Ia tidak butuh argumentasi hebat dari seorang laki-laki... tetapi ia butuh jaminan rasa aman darinya karena ia ada untuk dilindungi.... tidak hanya secara fisik tetapi juga emosi.
Ia tidak tertarik kepada fakta-fakta yang akurat, bahasa yang teliti dan logis yang bisa disampaikan secara detail dari seorang laki-laki, tetapi yang ia butuhkan adalah perhatiannya... kata-kata yang lembut...ungkapan-ungkapan sayang yang sepele... namun baginya sangat berarti...membuatnya aman di dekatmu....
Batu yang keras dapat terkikis habis oleh air yang luwes, sifat laki-laki yang keras ternetralisir oleh kelembutan perempuan. Rumput yang lembut tidak mudah tumbang oleh badai dibandingkan dengan pohon yang besar dan rindang...seperti juga di dalam kelembutannya di situlah terletak kekuatan dan ketahanan yang membuatnya bisa bertahan dalam situasi apapun.
Ia lembut bukan untuk diinjak, rumput yang lembut akan dinaungi oleh pohon yang kokoh dan rindang. Jika lelaki berpikir tentang perasaan perempuan, itu sepersekian dari hidupnya.... tetapi jika perempuan berpikir tentang perasaan lelaki, itu akan menyita seluruh hidupnya...Karena perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki- laki, karena perempuan adalah bagian dari laki-laki... apa yang menjadi bagian dari hidupnya, akan menjadi bagian dari hidupmu. Keluarganya akan menjadi keluarga barumu, keluargamu pun akan menjadi keluarganya juga. Sekalipun ia jauh dari keluarganya, namun ikatan emosi kepada keluarganya tetap ada karena ia lahir dan dibesarkan di
sana.... karena mereka, ia menjadi seperti sekarang ini. Perasaannya terhadap keluarganya, akan menjadi bagian dari perasaanmu juga... karena kau dan dia adalah satu.... dia adalah dirimu yang tak ada sebelumnya. Ketika pertandingan dimulai, pastikan dia ada di bagian lapangan yang sama denganmu.
Sumber : Unknown
Kamis, 08 Januari 2009
Cinta Itu Kesempatan Atau Pilihan..??

Cinta itu Kesempatan atau Pilihan ???
Saat kita bertemu dengan seseorang yang sempurna, yang kita cintai di saat yang tepat, di tempat yang tepat dan di waktu yang tepat.
Itu adalah kesempatan.
Saat kamu bertemu seseorang yang membuatmu tertarik. Itu bukan pilihan.
Itu adalah kesempatan.
Selalu bersama/bertemu dalam suatu waktu (dan banyak pasangan yang jadian karena hal ini) bukanlah suatu pilihan.
Itu adalah kesempatan .
Perbedaannya adalah setelah semuanya itu terjadi.
Kapan kau akan membawa rasa cinta, suka, ketertarikan tersebut naik ke tingkat selanjutnya?
Ketika kemudian akal sehat kita kembali bermain, kita akan duduk dan menimbang kembali apakah kau ingin melanjutkan hubungan tersebut atau melepaskannya.
Jika kau memilih untuk mencintai seseorang tersebut, meskipun dengan segala kekurangannya, itu bukanlah kesempatan.
Itu adalah pilihan.
Disaat kau memilih untuk bersama dengan seseorang, tidak peduli dengan hal lainnya.
Itu adalah pilihan
Meskipun kau tahu banyak orang di luar sana yang lebih menarik, pintar, dan lebih kaya daripada pasanganmu, dan ya, kau memutuskan untuk tetap mencintai
pasanganmu apa adanya.
Itu adalah pilihan.
Cinta, suka, ketertarikan datang kepada kita dari kesempatan.
Tetapi cinta sejati itu adalah sungguh-sungguh suatu pilihan.
Sebuah pilihan yang kita buat.
Berkenaan dengan teman sejiwa atau pasangan hidup, ada sebuah kutipan indah dari seorang bijak :
"Nasib membawamu untuk bersama, tetapi untuk tetap bersama sampai akhir itu semua tergantung dari dirimu."
Saya percaya bahwa teman sejiwa itu benar-benar ada.
Bahwa ada seseorang khusus diciptakan untukmu.
Tetapi itu masih tetap tergantung pada dirimu untuk membuat pilihan tersebut, apakah kau akan melakukannya atau tidak.
Kita mungkin akan menemukan teman sejati kita dengan kesempatan yang ada, tetapi untuk mencintai dan bersama dengan teman sejiwa kita, itu adalah
tetap pilihan kita untuk mewujudkannya.
Kita datang ke dunia ini bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk mencintai…
Tetapi untuk belajar, bagaimana mencintai seseorang yang tidak sempurna dengan sempurna…
Gimana pendapat anda?
Selasa, 30 Desember 2008
Perjalanan I
Kembali kunikmati perjalananku kali ini
Lagi-lagi berdiri diatas kaki..
Yaah..bagaimanapun hal ini bisa buatku bersyukur atas kaki yang sehat yang telah dianugrahkan kepadaku. Sempat terekam diingatanku beberapa saat yang lalu sebelum naik ke bus surabayanan, seorang laki-laki setengah baya berlari-lari sekuat tenaga dengan hanya sebelah kakinya dan sebatang tongkat penyangga, melompat ke dalam bus kota.
"Berhasil..!"
Itulah sorak yang terlontar dlam hatiku, meski miris juga saat melihatnya.
Janji yang diingkari oleh seorang kawan sempat buatku jengkel. Harusnya ku bisa langsung balik jogja tanpa harus transit. Bukan suatu pengingkaran namun keterlambatan yang membuatku tidak bisa mentolerir lagi...entah..kenapa aku bisa setega ini, hal ini yang jadi pemikiranku dalam bus kota yang membawaku kembali melanjutkan perjalanan setelah sekian lama menunggu di penantian.Bunyi hp yang berdering sesaat setelah ku meninggalkan tempat itu tak ku gubris. Termasuk sms yang mengatakan akan menantiku sampai aku balik lagi kesitu juga kubiarkan saja, mungkin karena sudah keburu mangkel.
"Masa bodoh..Tunggu saja sampai tahun depan yang pasti ku takkan datang.."runtukku dalam hati. "Belajarlah menemukan jalan kembali pulang".
Ku pilih naik kereta api, dengan pertimbangan tidak sama penuhnya dengan bus Sumber Kencono Surabaya-Jogja yang aku tumpangi tadi.
Aaaah..kejengkelan ini ta boleh menguasaiku karena akibatnya hariku akan buruk.Mencoba mematuhi nasehat tak bertuan yang katanya senyuman bisa menjadi obat mujarab bagi semua hal. Ku langkahkan kaki memasuki stasiun dengan ringan, dengan memasang sedikit senyum diwajahku. Sedikit memberi angin segar kepada tukang becak, sopir taksi serta petugas loket..apa salahnya, yang pasti aku jangan sampai dipikir sebagai orang gila.
Berwarna kuning mentereng kayak permen.."Prameks" kereta ini yang sering jadi
langgananku antara Solo-Jogja, tidak seperti kereta pada umumnya. Aku naik ke dalam kereta yang memang belum banyak terisi penumpang. Ku pilih kursi paling belakang dan pojok sendiri. Dua orang ibu naik setelah aku dan memeilih duduk disampingku, sempat kulontarkan senyum paling manis kepada mereka sebgai tanda mempersilahkan. Entah, mereka menganggabku senyumku manis ataupun malah pahit, aku nda tahu..yang kutahu mereka membalas tersenyum dan duduk disebelahku. Sempat bincang-bincang dan ku tahu mereka bersaudaraan yang satu tinggal di Jakarta,satunya di Jogjakarta. Obrolan ini menjadi menarik dan akupun cukup nyaman dengan mereka, kadang diselingi dengan canda tawa. Oleh mereka dikiranya aku keturunan Arab..karena hidungku yang mancung..Oo..aku hanya tersenyum..(Weew,arab jawa iya..bisikku dalam hati...Narsis!!..) Keramahan mereka tidak hanya samapi disitu saja, ditawarinya aku dengan berbagi makanan dan buah-buahan yang mereka bawa.
Separo perjalanan ku habiskan dengan bercerita, makan sembari sesekali melempar pandangan keluar jendela kereta saat ku melihat sesuatu yang menarik diluar sana.
Dipemberhentian stasiun berikutnya beberapa penumpang terlihat naik dan turun, bangku kereta sudah mulai terisi semua. Seorang ibu dengan menggendong anaknya terlihat sibuk mencari kursi yang masih bisa ditempati. Kayak yang diiklan-iklan itu kali ya..seorang mas-mas yang juga melihat trus pura-pura tidur. Begitupula dengan lainnya yang dekat dengan si ibu pura-pura tak melihat. Akhirnya kurelakan kursi yang kutempati. Dan kunikmati lagi berdiri diatas kaki. Yaah...lagi-lagi.. :)
Ada beberapa orang yang berdiri selain aku, kereta benar-benar penuh, mungkin karena bertepatan dengan hari libur. Meski sempat bincang-bincang dengan si Bapak petugas penarik karcis yang sempat menemaniku berdiri sebelum melaksanakan tugas beliau, namun tetap saja perjalanan ini meletihkanku. Rasa-rasanya punggung dan kakiku mau lepas. Ku coba mencari tempat sandaran yang nyaman diantara besi-besi pegangan kursi.
ku cari kesibukan sendiri agar perjalanan ini tidak terasa panjang, mulai kubuka buku elektrik ku yang senantiasa setia menemani dan menulis...ku larut sendiri dan tak terasa sampai juga..
Terima kasih untuk para sopir taksi yang sudah menanti..hwehwehwe..
Lagi-lagi berdiri diatas kaki..
Yaah..bagaimanapun hal ini bisa buatku bersyukur atas kaki yang sehat yang telah dianugrahkan kepadaku. Sempat terekam diingatanku beberapa saat yang lalu sebelum naik ke bus surabayanan, seorang laki-laki setengah baya berlari-lari sekuat tenaga dengan hanya sebelah kakinya dan sebatang tongkat penyangga, melompat ke dalam bus kota.
"Berhasil..!"
Itulah sorak yang terlontar dlam hatiku, meski miris juga saat melihatnya.
Janji yang diingkari oleh seorang kawan sempat buatku jengkel. Harusnya ku bisa langsung balik jogja tanpa harus transit. Bukan suatu pengingkaran namun keterlambatan yang membuatku tidak bisa mentolerir lagi...entah..kenapa aku bisa setega ini, hal ini yang jadi pemikiranku dalam bus kota yang membawaku kembali melanjutkan perjalanan setelah sekian lama menunggu di penantian.Bunyi hp yang berdering sesaat setelah ku meninggalkan tempat itu tak ku gubris. Termasuk sms yang mengatakan akan menantiku sampai aku balik lagi kesitu juga kubiarkan saja, mungkin karena sudah keburu mangkel.
"Masa bodoh..Tunggu saja sampai tahun depan yang pasti ku takkan datang.."runtukku dalam hati. "Belajarlah menemukan jalan kembali pulang".
Ku pilih naik kereta api, dengan pertimbangan tidak sama penuhnya dengan bus Sumber Kencono Surabaya-Jogja yang aku tumpangi tadi.
Aaaah..kejengkelan ini ta boleh menguasaiku karena akibatnya hariku akan buruk.Mencoba mematuhi nasehat tak bertuan yang katanya senyuman bisa menjadi obat mujarab bagi semua hal. Ku langkahkan kaki memasuki stasiun dengan ringan, dengan memasang sedikit senyum diwajahku. Sedikit memberi angin segar kepada tukang becak, sopir taksi serta petugas loket..apa salahnya, yang pasti aku jangan sampai dipikir sebagai orang gila.
Berwarna kuning mentereng kayak permen.."Prameks" kereta ini yang sering jadi
langgananku antara Solo-Jogja, tidak seperti kereta pada umumnya. Aku naik ke dalam kereta yang memang belum banyak terisi penumpang. Ku pilih kursi paling belakang dan pojok sendiri. Dua orang ibu naik setelah aku dan memeilih duduk disampingku, sempat kulontarkan senyum paling manis kepada mereka sebgai tanda mempersilahkan. Entah, mereka menganggabku senyumku manis ataupun malah pahit, aku nda tahu..yang kutahu mereka membalas tersenyum dan duduk disebelahku. Sempat bincang-bincang dan ku tahu mereka bersaudaraan yang satu tinggal di Jakarta,satunya di Jogjakarta. Obrolan ini menjadi menarik dan akupun cukup nyaman dengan mereka, kadang diselingi dengan canda tawa. Oleh mereka dikiranya aku keturunan Arab..karena hidungku yang mancung..Oo..aku hanya tersenyum..(Weew,arab jawa iya..bisikku dalam hati...Narsis!!..) Keramahan mereka tidak hanya samapi disitu saja, ditawarinya aku dengan berbagi makanan dan buah-buahan yang mereka bawa.Separo perjalanan ku habiskan dengan bercerita, makan sembari sesekali melempar pandangan keluar jendela kereta saat ku melihat sesuatu yang menarik diluar sana.
Dipemberhentian stasiun berikutnya beberapa penumpang terlihat naik dan turun, bangku kereta sudah mulai terisi semua. Seorang ibu dengan menggendong anaknya terlihat sibuk mencari kursi yang masih bisa ditempati. Kayak yang diiklan-iklan itu kali ya..seorang mas-mas yang juga melihat trus pura-pura tidur. Begitupula dengan lainnya yang dekat dengan si ibu pura-pura tak melihat. Akhirnya kurelakan kursi yang kutempati. Dan kunikmati lagi berdiri diatas kaki. Yaah...lagi-lagi.. :)
Ada beberapa orang yang berdiri selain aku, kereta benar-benar penuh, mungkin karena bertepatan dengan hari libur. Meski sempat bincang-bincang dengan si Bapak petugas penarik karcis yang sempat menemaniku berdiri sebelum melaksanakan tugas beliau, namun tetap saja perjalanan ini meletihkanku. Rasa-rasanya punggung dan kakiku mau lepas. Ku coba mencari tempat sandaran yang nyaman diantara besi-besi pegangan kursi.
ku cari kesibukan sendiri agar perjalanan ini tidak terasa panjang, mulai kubuka buku elektrik ku yang senantiasa setia menemani dan menulis...ku larut sendiri dan tak terasa sampai juga..
Terima kasih untuk para sopir taksi yang sudah menanti..hwehwehwe..
Sabtu, 20 Desember 2008
Desember Datang..Hujan Menjelang..

Malam..
Ku coba pejamkan mata..sambil menanti kantuk tiba..
Bersama iringin rintik hujan..waah klo ini namanya bukan rintik lagi tapi memang sudah hujan deras..Ku tengok jam yang selalu berdiri gagah setia menemani di pojok ruangan, baru jam 21.30 WIB..Belum terlalu larut tapi kenapa suasana begitu mencekam..sunyi sepi sendiri..hanya riuh bunyi hujan diluar, ada si Mbak tapi mungkin juga sudah tidur di kamar belakang, sesekali ku pindah chanel tv..lagi-lagi ga ada yang bisa buatku tertarik.
Tiba-tiba...
Wuuusshhh..hembusan angin menerpaku..
Sedikit kaget ku dibuatnya.., darimana datangnya angin ini..
Kulihat semua jendela sudah tertutup rapat, begitupula pintu..dan tidak semudah ini angin bisa masuk kecuali aku menyalakan fan ataupun Ac, dan malam ini sudah cukup dingin untuk tidak menyalakan keduanya. Tak kubiarkan pikiranku bermain sendiri, kembali kurebahkan diri di sofa. Kembali ku ikuti acara tv meski tidak sepenuhnya memahami. Sejenak kembali ku larut antara tayangan yang didepanku dengan deras hujan di luar sana, entah belum ada tanda-tanda hujan berhenti.
Lagi...lagi...
Wuuuuuussh...
Angin ini lagi...
Benar-benar buatku terperanjat hingga ku bangun dari posisi rebahanku,karna terasa sekali ke kulit mukaku..dingin..
Akhirnya,
daripada buat permainan angin,
aku matikan tv dan segara aku naik kekamarku dilantai satu..tanpa memikirkan apa-apa lagi.
Pagi..
Ku buka mata...lagi-lagi hujan menyapaku..
Huuff..semalaman hujan turun tak berhenti sampai hari ini.
Suasana yang ditimbulkan hujan disaat pagi seperti ini membuat orang enggan untuk melakukan apapun.
Ku tunggu...hingga akhirnya jam 8 semuanya reda.
Minggu, 30 November 2008
Tak Seindah Cinta Yang Semestinya
Sebait lagu yang kudengar melalui petikan sebuah gitar dari nun seberang sana..mampu buatku kelu..tertunduk haru..
Bulir-bulir itu kembali jatuh,
Hanya mampu ku dengar..tanpa bisa kulihat yang memainkan..
Ingin rasa menggapainya..menyentuhnya..
Terimakasih..sudah buatku merasa tak sendiri..kaupun sama berartinya bagiku..

Bulir-bulir itu kembali jatuh,
Hanya mampu ku dengar..tanpa bisa kulihat yang memainkan..
Ingin rasa menggapainya..menyentuhnya..
Lirik Lagu Naff -
Reff:
Aku mencintaimu setulus hatiku
Aku menyayangimu dengan sepenuh jiwaku
Aku Mengasihimu sepanjang usiaku
Aku Menginginkanmu lebih dari apapun
Meski tak seindah yang kau mau
Tak sesempurna cinta yang semestinya
Namun aku mencintaimu
Sungguh mencintaimu
Back to Reff:
Begitu erat begitu lekat
Perasaanku kepadamu
Tak bisa ku hentikan
Tak mampu ku tepiskan
Terimakasih..sudah buatku merasa tak sendiri..kaupun sama berartinya bagiku..

Jumat, 31 Oktober 2008
Gadis itu..GITA.
Djogjakarta, disuatu senja seiring dengan rintik hujan turun serta kepadatan lalu lintas kota.
"Kak, bisa numpang sampai lampu merah berikutnya ?" sebuah suara lirih menyapaku sore itu saat gerimis mengiringi kepulanganku.
Sedikit kaget ku menoleh kearah sumber suara, seorang gadis kecil tepat disampingku saat lampu merah menyala. Menilik dari pakaian yang dikenakan bisa kutebak gadis ini adalah pengamen. Sedikit ragu sebenarnya, tapi setelah melihat sorot matanya yg mengharap cemas serta putus asa akhirnya ku iyakan permintaannya. Dengan segera iya membonceng dibelakangku karena lampu segera berganti menjadi hijau.
"Terimakasih kak, terimakasih sekali, karena dari tadi saya mencoba mencari tumpangan ga ada yang mau" ujarnya.
Bisa kutebak usia anak ini sekitar 9 tahunan. Tidak terlalu kumuh sebenarnya cuma sedikit kurang terawat saja sepertinya.
"Adik mau kemana ?" tanyaku.
"Lampu merah Ring Road Utara" dia menjawabnya. "Atau terserah kakak sampai dimana tujuannya" tambah gadis itu lagi.
"Oh, ga papa kebetulan itu juga rute kakak" ujarku.

Dari bibirnya kumendapat cerita bahwa dia masih sekolah kelas 4 SD dan tinggal disebuah Rumah Singgah di wilayah Kota Baru Jogjakarta. Bermacam pertanyaan muncul dipikiranku mengenai dimana keluarganya, bagaimana dia bisa bertahan dengan keaadaan seperti itu.
Sisa dari perjalananku kuhabiskan sambil mendengar cerita dari gadis kecil itu. Hidup hanya dengan seorang adiknya laki-laki saja, usia 6 tahun yang saat ini dia tinggal untuk mengamen di lampu merah dimana yang menjadi tujuannya sekarang. Gadis itu hendak menjemput adiknya untuk pulang bersama.
"Orang tua kamu dimana ?" kutanyakan hal itu kepadanya.
Dengan sedikit terbata dia menjawab " Bapak sudah meninggal, setelah itu tiba-tiba ibu pergi,kami ga tahu ibu pergi kemana, tahu-tahu kami sudah ditinggalkan begitu saja".
"Ooh.." mungkin hanya itu kata yang bisa terucap dariku.
Entah itu suatu kebohongan atau memang sebuah pernyataan jujur aku juga ga tahu. Namun aku bisa melihat gadis ini cukup baik, cerdas tidak seperti pengamen jalanan lainnya. Dia biasa mengamen sehabis pulang sekolah jam satu-an dan pulang menjelang mangrib bersama dengan adiknya. Namun untuk saat ini mereka memang berbagi lokasi sehingga dia harus menjemput adiknya yang masih kecil untuk diajak pulang bersama.
Setelah hampir sampai ketempat yang dia tuju, baru kusadar "Eh, Nama kamu siapa?" tanyaku.
" Gita, Kak" jawabnya. Dengan sedikit terburu-buru karena pas dilampu merah, gadis itu turun dengan menyampaikan rasa terimakasih yang diulang-ulang, aku hanya tersenyum
dan mengangguk.
Kembali ku melanjutkan sisa perjalananku sendiri, dengan berbagai macam perasaan yang berkecamuk dalam hati. Seolah dingat kan oleh suatu hal "Ucapan Syukur" mungkin hal yang jarang aku lakukan. Aku baru menyadari bahwa setiap apa yang aku dapatkan saat ini mungkin itu sudah merupakan bagian terbaik. Yaaaah...lebih baik bukan daripada aku mesti ngamen dijalan hehehehe...
Thank's GoD !
"Kak, bisa numpang sampai lampu merah berikutnya ?" sebuah suara lirih menyapaku sore itu saat gerimis mengiringi kepulanganku.
Sedikit kaget ku menoleh kearah sumber suara, seorang gadis kecil tepat disampingku saat lampu merah menyala. Menilik dari pakaian yang dikenakan bisa kutebak gadis ini adalah pengamen. Sedikit ragu sebenarnya, tapi setelah melihat sorot matanya yg mengharap cemas serta putus asa akhirnya ku iyakan permintaannya. Dengan segera iya membonceng dibelakangku karena lampu segera berganti menjadi hijau.
"Terimakasih kak, terimakasih sekali, karena dari tadi saya mencoba mencari tumpangan ga ada yang mau" ujarnya.
Bisa kutebak usia anak ini sekitar 9 tahunan. Tidak terlalu kumuh sebenarnya cuma sedikit kurang terawat saja sepertinya.
"Adik mau kemana ?" tanyaku.
"Lampu merah Ring Road Utara" dia menjawabnya. "Atau terserah kakak sampai dimana tujuannya" tambah gadis itu lagi.
"Oh, ga papa kebetulan itu juga rute kakak" ujarku.

Dari bibirnya kumendapat cerita bahwa dia masih sekolah kelas 4 SD dan tinggal disebuah Rumah Singgah di wilayah Kota Baru Jogjakarta. Bermacam pertanyaan muncul dipikiranku mengenai dimana keluarganya, bagaimana dia bisa bertahan dengan keaadaan seperti itu.
Sisa dari perjalananku kuhabiskan sambil mendengar cerita dari gadis kecil itu. Hidup hanya dengan seorang adiknya laki-laki saja, usia 6 tahun yang saat ini dia tinggal untuk mengamen di lampu merah dimana yang menjadi tujuannya sekarang. Gadis itu hendak menjemput adiknya untuk pulang bersama.
"Orang tua kamu dimana ?" kutanyakan hal itu kepadanya.
Dengan sedikit terbata dia menjawab " Bapak sudah meninggal, setelah itu tiba-tiba ibu pergi,kami ga tahu ibu pergi kemana, tahu-tahu kami sudah ditinggalkan begitu saja".
"Ooh.." mungkin hanya itu kata yang bisa terucap dariku.
Entah itu suatu kebohongan atau memang sebuah pernyataan jujur aku juga ga tahu. Namun aku bisa melihat gadis ini cukup baik, cerdas tidak seperti pengamen jalanan lainnya. Dia biasa mengamen sehabis pulang sekolah jam satu-an dan pulang menjelang mangrib bersama dengan adiknya. Namun untuk saat ini mereka memang berbagi lokasi sehingga dia harus menjemput adiknya yang masih kecil untuk diajak pulang bersama.
Setelah hampir sampai ketempat yang dia tuju, baru kusadar "Eh, Nama kamu siapa?" tanyaku.
" Gita, Kak" jawabnya. Dengan sedikit terburu-buru karena pas dilampu merah, gadis itu turun dengan menyampaikan rasa terimakasih yang diulang-ulang, aku hanya tersenyum
dan mengangguk.
Kembali ku melanjutkan sisa perjalananku sendiri, dengan berbagai macam perasaan yang berkecamuk dalam hati. Seolah dingat kan oleh suatu hal "Ucapan Syukur" mungkin hal yang jarang aku lakukan. Aku baru menyadari bahwa setiap apa yang aku dapatkan saat ini mungkin itu sudah merupakan bagian terbaik. Yaaaah...lebih baik bukan daripada aku mesti ngamen dijalan hehehehe...
Thank's GoD !
Senin, 27 Oktober 2008
Ditujukan Khusus Untuk Setiap Wanita Cantik Kepunyaan Allah

Sebuah sms tiba-tiba saja menyapaku dari lamunku,sebait kata-kata menguatkan kudapat, (Thanks my Mom'Dev)
Wanita cantik melukis kekuatan lewat masalahnya..
Tersenyum Saat Tertekan,
Tertawa disaat hati sedang menangis,
Memberkati disaat terhina,
Mempesona karena memaafkan.
Wanita cantik mengasihi tanpa pamrih dan bertambah kuat dalam doa dan pengaharapan.
Jumat, 17 Oktober 2008
Rasaku
Kutulis disaat malam menjelang pagi disaat kumerasa tersadar diantara sebuah kenyataan, karna seseorang,untuk seseorang,bukan siapa-siapa tapi cukup mengena.
Sedihku bukan rasamu
Kalutku bukan cemasmu
Raguku bukan niatmu
Lukaku tiada yang tahu
Terhempas oleh sebuah kenyataan
Tak dapat dipungkiri
Kadang ingin berlalu
Berlari sejauh mungkin
Kembali kukejar
Kembali kuraih
Letih kurasa
Tak berdaya yang ada

Sedihku bukan rasamu
Kalutku bukan cemasmu
Raguku bukan niatmu
Lukaku tiada yang tahu
Terhempas oleh sebuah kenyataan
Tak dapat dipungkiri
Kadang ingin berlalu
Berlari sejauh mungkin
Kembali kukejar
Kembali kuraih
Letih kurasa
Tak berdaya yang ada

Kamis, 16 Oktober 2008
Akhirnya...Oh...Akhirnya...
Pagiku kuawali dengan sebuah keengganan..yaach...enggan untuk membuka mata..enggan untuk memulai hari..sedikit pening terasa menghantam kepalaku. Baru kuingat aku memang tidak cukup tidur semalam..mungkin hanya 1-2 jam saja, keasyikan ngobrol ngalor ngidul ga karuan, dengan dua sahabat lama yang baru datang.
Sahabat..maafkan aku karena telah segera menghentikan obrolan kita sampai jam 2 pagi saja..
...dan itupun tidak bisa langsung membuatku bisa tidur karena udara yang terasa panas dimalam itu membuatku gerah.
Setidaknya telah kubawa kalian menikmati keindahan malam..taburan gemintang..belaian lembut angin sepoi di Sky Garden serta coletahan ke lima teman lainnya datang tanpa diundang.
Sampai jam besar berdentang 3 kali aku masih bisa mendengarnya dengan tingkat kesadaran penuh..Perlahan sejenak ku mulai bisa memasuki alam batas sadarku..tak kupedulikan lagi dentangan jam raksasa itu..karena aku sudah tidak mampu lagu untuk menghitung.
..baru sesaat..
yaach...
baru sesaat..kumerasa ada yang mulai menggelitik gendang telingaku.
"Huff...kalian knapa sudah mulau berkicau lagi..tidak tahukan kalian bahwa ku belum bisa menikmati tidurku...? Rutukku dalam hati.
Kulihat waktu menunjukkan jam 5 pagi. Apa boleh buat, kuikut kembali meramaikan suasana pagi ini.
"Kesempatan seperti ini jarang-jarang terjadi ga ada salahnya aku sedikit merelakan waktu tidurku, toh pagi ini kalian juga sudah akan kembali ke semarang" pikirku.
Sedikit jabat tangan, cium persahabatan serta lambaian tangan mewakili perpisahan kita, tak kulihat lagi kalian sampai diujung kelokan jalan.
...
Sepertinya akibat kurang tidur semalam terbawa ketempat kerja. Meeting yang sebenarnya sangat menarik sedikit terasa membosanku bagiku, berbagai macam tulisan,perhitungan, dan grafik yang berwarna warni yang terpampang di Screen terkadang kutatap dengan pandangan kosong..lagi-lagi goncangan ditempat duduk ku membuatku terjaga..hehehe..terimakasih teman.
Break tiba, kuacuhkan jatahku lunch-ku,karena memang tak ada nafsu makan. Dan kugunakan sebentar untuk buka email, freindster serta nimbrung sebentar di Ym.
"Sapa tahu bisa sedikit membantuku menghilangkan rasa kantuk walau sesaat" pikirku dalam hati.
Merasa iri melihat sebuah blog teman..(Ups.. bukan iri yang benar adalah kagum!) Kumulai lagi otak atik sana sini setelah sekian lama aku selalu gagal terus tiap mau membuat blog. ( Mungkin karena sering DC speedy-nya kali ya...hehehehe...)
Dan akhirnnya.....
Akhirnya...
Kuberhasil !!
Kupunya sebuah Blog...!!!
Duuuuuch...senangnya.....
Terimakasih teman.

Sahabat..maafkan aku karena telah segera menghentikan obrolan kita sampai jam 2 pagi saja..
...dan itupun tidak bisa langsung membuatku bisa tidur karena udara yang terasa panas dimalam itu membuatku gerah.
Setidaknya telah kubawa kalian menikmati keindahan malam..taburan gemintang..belaian lembut angin sepoi di Sky Garden serta coletahan ke lima teman lainnya datang tanpa diundang.
Sampai jam besar berdentang 3 kali aku masih bisa mendengarnya dengan tingkat kesadaran penuh..Perlahan sejenak ku mulai bisa memasuki alam batas sadarku..tak kupedulikan lagi dentangan jam raksasa itu..karena aku sudah tidak mampu lagu untuk menghitung.
..baru sesaat..
yaach...
baru sesaat..kumerasa ada yang mulai menggelitik gendang telingaku.
"Huff...kalian knapa sudah mulau berkicau lagi..tidak tahukan kalian bahwa ku belum bisa menikmati tidurku...? Rutukku dalam hati.
Kulihat waktu menunjukkan jam 5 pagi. Apa boleh buat, kuikut kembali meramaikan suasana pagi ini.
"Kesempatan seperti ini jarang-jarang terjadi ga ada salahnya aku sedikit merelakan waktu tidurku, toh pagi ini kalian juga sudah akan kembali ke semarang" pikirku.
Sedikit jabat tangan, cium persahabatan serta lambaian tangan mewakili perpisahan kita, tak kulihat lagi kalian sampai diujung kelokan jalan.
...
Sepertinya akibat kurang tidur semalam terbawa ketempat kerja. Meeting yang sebenarnya sangat menarik sedikit terasa membosanku bagiku, berbagai macam tulisan,perhitungan, dan grafik yang berwarna warni yang terpampang di Screen terkadang kutatap dengan pandangan kosong..lagi-lagi goncangan ditempat duduk ku membuatku terjaga..hehehe..terimakasih teman.
Break tiba, kuacuhkan jatahku lunch-ku,karena memang tak ada nafsu makan. Dan kugunakan sebentar untuk buka email, freindster serta nimbrung sebentar di Ym.
"Sapa tahu bisa sedikit membantuku menghilangkan rasa kantuk walau sesaat" pikirku dalam hati.
Merasa iri melihat sebuah blog teman..(Ups.. bukan iri yang benar adalah kagum!) Kumulai lagi otak atik sana sini setelah sekian lama aku selalu gagal terus tiap mau membuat blog. ( Mungkin karena sering DC speedy-nya kali ya...hehehehe...)
Dan akhirnnya.....
Akhirnya...
Kuberhasil !!
Kupunya sebuah Blog...!!!
Duuuuuch...senangnya.....
Terimakasih teman.

Langganan:
Postingan (Atom)